Santri Milenial


Blue-Yellow-Orange-Burger-Promo-Flyer.jpg

Read 917 

Membaca masa depan pesantren dan nahdliyyin tidak lepas pada perbincangan tentang ‘santri milenial’. Di media sosial, istilah santri milenial berkembang searah dengan pembahasan isu-isu ‘santri zaman now’. Dari istilah analis demografi sosial, generasi milenial atau generasi Y akrab disebut sebagai ‘generation me’ atau ‘echo boomers’. Para pakar menggolongkan generasi ini yakni mereka yang terlahir pada tahun 1980 hingga 2000. William Strauss dan Neil Howe, dua periset Amerika, mengenalkan istilah milenial kepada publik luas.

Hasanuddin Ali, dalam risetnya tentang generasi milenial, menjelaskan betapa generasi milenial memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi milenial dengan populasi 34% dari penduduk Indonesia saat ini, memiliki karakter creative, confident, dan connected (Ali, 2017). Generasi ini sangat kreatif dalam mengeksplorasi dimensi baru, bekerja dalam bidang-bidang kreatif yang menggairahkan. Sekaligus percaya diri dengan keahlian, kapabilitas dan cakrawala pengetahuan yang dimiliki. Generasi milenial juga terkoneksi dengan teknologi, untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan memperluas jaringan.

Bagaimana dengan santri milenial? Tentu saja, santri milenial tidak lepas dari karakter generasi milenial pada umumnya. Mereka sangat kreatif, percaya diri sekaligus terkoneksi dengan lini-lini teknologi. Kreatifitas santri milenial tidak dibatasi oleh bilik-bilik pesantren, mereka juga percaya diri dengan kemampuan personal dalam pelbagai pengetahuan, science dan antar bahasa. Namun, santri milenial memiliki keunggulan dalam basis moral. Nilai-nilai moralitas inilah yang menjadi daya penunjang bagi santri milenial, di samping kemampuan analisa teks-teks keislaman klasik yang diajarkan selama di pesantren.

Follow me
Latest posts by Imam Sholikin (see all)

Imam Sholikin

santri