Body Shaming terhadap Atlit Berprestasi, Bukti Perempuan Masih Dinilai dari Bentuk Badannya


Read 350 

Ilustrator: @zanzabillaa_

Body shaming atau olok-olok terhadap fisik sudah beberapa kali dialami atlit angkat besi Nurul Akmal. Terakhir, hal terjadi saat dia bersama kontingen olimpiade Indonesia tiba bandara di Jakarta. Ternyata prestasi internasional, tidak cukup untuk membungkam mulut jahat yang telah terpapar standar kecantikan imajinatif.

Kasus body shaming terhadap atlit angkat beban, Nurul Akmal atau yang akrab dipanggil Amel, sedang menjadi bahan perbincangan di media sosial. Ujaran seseorang yang belum diketahui identitasnya tersebut, ramai pasca video kedatangan Nurul dan kontingen olimpiade lainnya diunggah. Di dalamnya video tersebut terdapat suara orang di barisan wartawan/fotografer/petugas penyambutan yang berkata “yang paling kurus” saat atlit angkat beban kelas 87 kg+ tersebut melintas.

Banyak orang yang menduga bahwa ucapan tersebut ditujukan kepada Nurul sebagai sebuah sindiran atas bentuk tubuhnya. Ramai-ramai warganet mengungkapkan rasa geram atas peristiwa tersebut.

Ternyata, body shaming atau olok-olok terhadap fisik tersebut bukan kali pertama dialami oleh Nurul. Kepada beberapa awak media ia bercerita bahwa ia sering kali mendapat ucapan kurang sopan atas bentuk tubuhnya. “kaya kerbau” “gendut” “banyak makan” adalah beberapa caci-maki yang sering menghampirinya.

Padahal sebagai atlit angkat beban kelas berat dengan kategori minimum berat tubuh 87 Kg, bentuk tubuh Nurul tersebut sangat masuk akal dan beralasan. Justru jika ia menurunkan berat badan, menyesuaikan dengan standar kecantikan yang abstrak itu, ia tak lagi dapat bertanding pada kejuaraan lain di kelasnya.

Selain itu, peristiwa ini menampar kita dengan kenyataan pedih bahwa perempuan masih kerap dihargai sebagai seonggok daging yang bentuknya harus sesuai standar. Tak peduli apakah ia cerdas, berprestasi, berdaya guna, dan lain-lain. Selama bentuk tubuhnya tidak sesuai dengan standar kecantikan imajiner tersebut, kekuatan dan potensi apapun yang melekati perempuan hampir tak ada artinya.

Masih teringat jelas dalam benak saya, film karya sutradara Ernest PrakasaImperfect, yang menampilkan realita perusahaan produk kecantikan yang kerap kali memperlakukan karyawan secara diskriminatif berdasarkan standar kecantikan mereka. Sehingga potensi besar kecerdasan seorang karyawan, dapat dinego dengan mudah asalkan memiliki paras rupawan.

Bentuk tubuh yang merupakan gabungan dari hormon pertumbuhan, latihan fisik, faktor keturuan, dan lain sebagainya tersebut seketika berubah menjadi ukuran penilaian “keperempuanan”. Betapa banyak kita temui di sekeliling kita, komentar pedas seperti “perempuan kok badannya kayak gajah” atau “kurus banget jadi perempuan, nanti susah hamil lho”. Dan lain sebagainya, yang lagi-lagi seolah membiarkan diri perempuan dilihat hany sebagai bongkahan daging tak berdaya.

Kepada Nurul Akmal dan Nurul-Nurul lain yang sedang mengalami perundungan, diskriminasi dan cemoohan akibat bentuk tubuh, yang mengabaikan potensi kehebatan lain, saya ingin mengucapakan “ayo lawan”. Dengan prestasi, dengan ketegasan dan keberaniaan, dengan karya, dengan inovasi, yang membuka mata mereka bahwa menjadi cantik tak harus ikuti standar. Tunjukkan bahwa kita punya arti cantik untuk kita masing-masing. Kita perempuan, makhluk sempurna, sebagaimana manusia lain, berdaya guna, bukan pajangan belaka.

Kepada para perundung di luar sana, yang masih selalu menilai perempuan dari bentuk fisiknya, lihatlah betapa rapuhnya bangunan standar tak kasat mata itu. Lihatlah bagaimana standar tersebut telah mengaburkan mata kalian dari segala hal baik, potensi dan pencapaian perempuan. Hanya karena bentuk yang tak sesuai imajinasi absurd kalian, bukan berarti kalian dapat merendahkan martabat perempuan. Justru dengan berlaku demikian, kalian menunjukkan betapa sempitnya dunia dalam pikiran kalian yang terbatasi standar tak manusiawi tersebut.

Zahra

Mahasiswa Filsafat UGM