STOP CURHAT DI MEDIA SOSIAL


MEDSOS.jpg

Read 431 

Semua orang pasti pernah merasakan sesuatu yang tidak ingin terjadi, dan semua orang pasti memiliki problem hidupnya masing-masing. Di suatu saat terkadang manusia merasa bahagia dan suatu saat juga manusia merasa sedih dan gundah, itu semua sudah menjadi fitrahnya manusia.

Namun dalam menghadapi sebuah masalah, orang memiliki beragam cara untuk memecahkan masalah, ada yang bercerita dengan orang tuanya, teman, kekasih, dan bahkan kepada alam dengan cara berdiam diri dan menyepi untuk beberapa saat. Namun ada juga yang mencurahkan kegundahan di hatinya dengan curhat di dalam media sosial, seperti Twitter, Instagram, Facebook, WhatsApp dan media sosial lainnya, sehingga semua orang secara global mengetahui apa yang sedang dia alami.

Adapula orang yang menceritakan semua masalah hidupnya di media sosial, seakan-akan kehidupan dia selalu mengerihkan dan tak ada rasa bahagia sedikitpun di hari-harinya. Masalah dengan teman, guru, orangtua, atau bahkan masalah rumah tangga pun diceritakan disana, tak peduli apakah itu aib bagi meraka atau bukan.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dengan mencurahkan masalah hidup di media sosial bukan memberikan solusi justru akan menambah suatu masalah, kenapa demikian? Karena Mengumbar kesedihan di media sosial di saat tidak ada orang lain yang bisa kita ajak curhat bukanlah solusi yang tepat atas suatu masalah. Jika kamu sedikit lebih berpikir sejenak, banyak sekali kerugian yang akan kamu dapatkan jika semua orang tahu bahwa kamu memiliki karakter yang sangat lemah.

Pertama banyak orang yang simpati tapi tidak sedikit yang merasa senang melihatmu menderita. Dapatkah kamu menghitung ada berapa musuh kamu di media sosial? Saya yakin kamu tidak akan bisa menghitungnya, karena bisa saja musuh kamu adalah orang-orang terdekat bahkan sahabat kamu sendiri. Biasanya mereka akan bahagia ketika melihat status sedih di akun media sosialmu. So jangan pernah biarkan mereka bahagia di atas penderitaanmu.

Kedua biasanya masalah yang di umbar di media sosial akan semakin membesar tanpa memberikan titik solusi. Di saat kamu memposting status di media sosial, maka puluhan reaksi dari netizen akan terus bermunculan tanpa kamu sadari. Lambat laun kamu pun akan berusaha menjelaskan lebih detail lagi kepada netizen atas kesedihan yang kamu rasakan saat ini.
Tanpa kamu sadari justru sedang membuat masalah itu semakin membesar tanpa menemui titik solusi yang tepat. Lebih baik kamu tidak meminta pendapat atau dukungan netizen atas masalah yang kamu rasakan. Alangkah baiknya kamu berbincang secara langsung bukan melalui telefon ataupun pesan instan. Karena dengan bertatap muka ada interaksi seperti sentuhan atau rangkulan yang bisa dilakukan saat mendengarkan.

“Anak muda sekarang lebih mudah stres dan sekarang semakin parah karena berhubungan dengan gadget. Ini (gadget) memang bisa menyalurkan emosi (curhat di sosial media) tapi tidak memberikan koreksi. Kalau ketemu kita bisa melakukan sentuhan, merangkul, itu yang sangat dibutuhkan manusia,” kata pakar Ilmu Sosial, Budaya dan Komunikasi, Devie Rachmawati.

Akan lebih bijak jika kamu menumpahkan semuanya lewat tulisan dan menyimpannya sebagai kenangan pribadi. Jika kamu perlu menumpahkan semua kesedihan dan ingin segera bangkit kembali, maka jalan satu-satunya hanyalah bercerita kepada orang yang tepat atau menulisnya di kertas kosong. Hasil luapan emosimu tidak akan merugikan siapapun selama kamu mau menyimpannya sendiri atau jika perlu kamu segera membuang hasil curahan hatimu tersebut ke tong sampah.

Kesedihan itu mutlak, dan semua manusia pasti pernah mengalaminya. Yang perlu kita lakukan saat masalah itu muncul hanyalah berdoa dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena jejak kebaikan itu akan selalu diikuti rezeki yang tiada kita kira dan dapat menghapus kenangan buruk atas kesedihan itu sendiri.

Semua masalah itu tidak sepantasnya disebar dan diceritakan kepada setiap. Cukup semua perkara yang dihadapi seorang muslim hanya dicurhatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang muslim hanya akan menampakkan kelemahannya di hadapan Allah, tidak kepada makhluk yang sama-sama lemah.

Kita memiliki dzikir لَا حَوْلَ وَ لَا قوَّةّ إِلَّا بِا الله yang maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindari kemaksiatan dan upaya untuk melakukan ketaatan kecuali kekuatan dari Allah.

Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika menghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf, sehingga anak-anaknya yang lain mengiranya akan bertambah sakit dan sedih. Maka dengarlah jawaban Nabi Ya’qub yang perlu diteladani setiap muslim,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ

“Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)

Muhammad Akhir Ramadhan
social media
Latest posts by Muhammad Akhir Ramadhan (see all)
Muhammad Akhir Ramadhan

Muhammad Akhir Ramadhan

S1 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Fakultas Bahasa dan Sastra Inggris. Aktivis lingkungan dan bergabung di berbagai organisasi non -profit, ia bergabung di organisasi HIMA Persis KBB dan menjabat sebagai bidang Ekonomi, Asoli.id sebagai anggota, UKM LIKM sebagai Kepala Bidang KOMINFO, di Perpustakaan Jalanan, dan Asia Afrika Membaca.