0 5 min 2 mths

20210206_165401_0000.png

Read 128 

Ada yang pernah mendengar tentang self-harming / self-injury ?
Yuk kita pahami dulu pengertiannya.

Self-injury adalah perilaku menyakiti dan melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja. Ini merupakan salah satu bentuk dari gangguan perilaku yang terkait dengan sejumlah penyakit kejiwaan.

Self-injury dapat berupa tindakan melukai tubuh dengan benda tajam atau benda tumpul, seperti menyayat atau membakar kulit, memukul tembok, membenturkan kepala, dan mencabuti rambut. Penderita self-injury juga dapat dengan sengaja menelan sesuatu yang berbahaya, seperti cairan deterjen atau obat nyamuk, bahkan menyuntikkan racun ke dalam tubuh.

Oke, izinkan aku menceritakan pengalaman seorang teman dengan self-inury nya. Seorang teman bercerita bahwa hari itu dia baru saja melukai dirinya dengan membenturkan kepalanya ke tembok hal itu sering ia lakukan ketika dia terlalu menumpukkan permasalahan hidupnya. Ya , dia termasuk orang yang sulit menceritakan keluh kesahnya , tidak bisa mengungkapkan keresahan nya.

Sehingga, saat masalah nya menumpuk ia akan melukai dirinya sendiri dengan membenturkan kepalanya ke tembok berulang kali , hingga mengakibatkan hidungnya keluar darah. Sebagai seorang teman yang mencintai dan menyayanginya aku memberi nya saran untuk pergi ke psikolog. Setelah dia melakukan pertimbangan akhirnya ia menemukan seorang psikolog.

Ia menceritakan hasil dari pertemuannya dengan psikolog, bahwa apa yang dia alami termasuknya berpengaruh pada massa kecilnya yang kurang baik. Ia diminta untuk berdamai dengan masa lalunya , dan dalam proses terapi ia menceritakan bahwa dalam prosesnya ia diberi stimulus oleh psikolognya untuk tidak melukai dirinya sendiri, ia diminta untuk berbncang kepada dirinya yang sering ia lukai.
Untuk lebih jelas , simak penjelasanya di bawah ya.

Ciri-Ciri Pelaku Self-Injury
Orang yang memiliki tendensi untuk menyakiti diri sendiri sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas. Perilaku self-injury tersebut biasanya dilakukan pada saat mereka sendirian, dan tidak di tempat umum.
Namun, beberapa ciri berikut mungkin menandakan seseorang memiliki kecendurungan untuk menyakiti diri sendiri:
• Memiliki sejumlah luka di tubuhnya, seperti luka sayat di pergelangan tangan, luka bakar di lengan, paha, dan badan, atau memar di buku jari-jari tangan. Umumnya mereka akan menyembunyikan luka tersebut dan akan menghindar bila ditanya apa penyebabnya.
• Memperlihatkan gejala depresi, seperti suasana hati yang buruk, sering merasa sedih, menangis, dan tidak memiliki motivasi dalam hidup.
• Sulit bersosialisasi, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Mereka lebih suka menyendiri dan enggan berbicara dengan orang lain.
• Cenderung tidak percaya diri atau menyalahkan diri sendiri atas masalah apa pun yang terjadi.
• Sering mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh, untuk menyembunyikan luka.
Perilaku mencederai diri sendiri berisiko menimbulkan luka fisik yang fatal, serta meningkatkan risiko bunuh diri. Lantaran aksi nekatnya, tak jarang pelaku self-injury harus dirawat di rumah sakit atau bahkan berakhir dengan kecacatan permanen hingga kematian.

Penanganan Self-Injury
Pelaku self-injury perlu mendapatkan perawatan khusus dari ahli kejiwaan, baik psikolog ataupun psikiater. Psikolog atau psikiater akan melakukan pemeriksaan untuk mendiagnosis perilaku self-injury dan menentukan penyebabnya. Penanganan akan diberikan sesuai penyebab munculnya perilaku ini.

Secara umum beberapa langkah penanganan pada penderita self-injury meliputi:
Perawatan medis
Penderita self-injury yang mengalami luka atau masalah kesehatan lain, perlu segera mendapat pertolongan medis, baik berupa rawat jalan maupun rawat inap.

Terapi dan Konseling
Terapi dan konseling dengan psikiater atau psikolog bertujuan untuk mencari tahu penyebab tindakan self-injury, sekaligus menemukan cara terbaik untuk mencegah pasien melakukan tindakan ini lagi. Jenis terapi yang bisa dilakukan antara lain psikoterapi, terapi perilaku kognitif, terapi kelompok, dan terapi keluarga.
Selain menjalani terapi dan pengobatan di atas, orang yang memiliki tendensi untuk menyakiti diri sendiri juga disarankan untuk:
• Tidak menyendiri. Carilah dukungan sosial dan psikologis dari teman, keluarga, atau kerabat dekat.
• Menyingkirkan benda-benda tajam, zat kimia, atau obat-obatan yang bisa digunakan untuk melukai diri sendiri.
• Bergabung dengan kegiatan-kegiatan positif, misalnya klub olahraga atau fotografi.
• Mendalami hobi, seperti bermain musik atau melukis, guna membantu mengekspresikan emosi dengan cara yang positif.
• Menghindari konsumsi minuman keras dan narkoba.
• Mengalihkan perhatian ketika ada keinginan untuk melakukan self-injury.
• Rutin berolahraga, mencukupi waktu tidur dan istirahat, serta mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang.
Menyakiti diri sendiri (self-injury) adalah salah satu bentuk gangguan perilaku yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Perilaku self-injury membutuhkan penanganan dari psikolog atau psikiater, terlebih jika kondisi ini berhubungan dengan gangguan mental tertentu.

Risma Nurmaulina
Latest posts by Risma Nurmaulina (see all)