0 4 min 1 yr

cover.jpg

Read 301 

Bullying kata-kata yang sudah tidak asing di telinga kita dan nampaknya hampir semua orang tahu tentang bullying, namun seringkali justru membiarkanya terjadi begitu saja. Bullying seringkali terjadi di lingkungan institusi pendidikan seperti di sekolah ataupun di perguruan tinggi.

Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok terhadap orang-orang atau kelompok lain yang dilakukan secara berulang-ulang dengan cara menyakiti secara fisik maupun mental (Prasetyo, 2011). Bullying yang sering terjadi adalah saat penerimaan siswa baru (MOS) dimana kakak tingkat sebagai panitia melakukan kekerasan kepada para siswa baru.

Istilah bullying menurut American Psychology Association pada tahun 2013 adalah “a form of aggressive behavior in which someone intentionally and repeatedly causes another person injury or discomfort. Bullying can take the form of physical contact, words or more subtle actions.” Yang berarti bullying merupakan bentuk perilaku yang agresif atau termasuk perilaku agresi karena dilakukan secara berulang kali sehingga membuat orang lain merasakan ketidaknyamanan. Bentuk bullying termasuk kontak fisik, kata-kata atau tindakan yang lebih halus.

Kebayakan bullying dilakukan oleh siswa atau mahasiswa kerena meraka sedang menginjak masa remaja atau masa goncangan, dimana pada fase tersebut perkembangan emosi sedang melonjak, labil, dan masih mencari jati dirinya. Karena fase remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa dan mereka masih berpikiran labil. Masa transisi ini usianya berkisaran dari 10-12 tahun dan berakhir pada usia 18-21 tahun.

Perilaku bullying yang sering terjadi dikalang remaja antara lain bullying fisik, bullying verbal, bullying rasional, dan bullying elektronik. Bullying fisik adalah perilaku yang dengan sengaja menyakiti atau melukai fisik orang lain, bullying verbal adalah perilaku yang dilakukan dengan mengucapkan perkataan yang menyakiti atau menghina orang lain, bullying relasional adalah perilaku yang mengucilkan atau mengitimidasi orang lain dalam pergaulan, sedangkan bullying elektronik adalah perilaku yang menyakiti orang lain dengan menggunakan jejaring sosial (Budiarto, 2013).

Menurut penelitian Duke University yang diterbitkan 12 Mei 2014 dalam Proceedings of the National Academy of Sciences dampak bullying di masa kanak-kanak dapat berbekas seumur hidup, baik bagi korban maupun pelaku bullying itu sendiri, begitu pula pada kaum dewasa muda yang menunjukkan dampak jangka panjang akibat tindakan bullying.

Jangan sepelekan perkara bullying. Pada remaja, bullying merupakan pintu masuk bagi berbagai gangguan kesehatan mental seperti depresi hingga bunuh diri.

“Akibat bullying itu bermacam-macam, bisa mengalami kecemasan hingga depresi berat,” kata dokter ahli kesehatan jiwa Agung Frijanto di Kementerian Kesehatan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa sedunia tiap 10 Oktober.

Menurut Agung, banyak kasus gangguan kesehatan mental akibat bullying yang tidak tertangani dengan baik. Pasalnya, remaja sering kali tak terbuka soal masalah-masalah yang dialaminya. Begitu pula dengan orang tua dan guru yang abai pada kondisi remaja.

“Banyak yang tidak cerita masalah mereka. Gejala depresi juga salah satunya adalah banyak diam dan sedih. Orang tua dan guru harus lebih peka pada kondisi ini,” ucap Agung. Data global dari WHO pada 2018 menunjukkan, masalah bunuh merupakan penyebab kematian terbanyak pada kelompok usia 15-29 tahun.

Hasil survey dari Global Schoola-Based Student Health Survey di Indonesia pada 2015 menemukan, 1 dari 20 remaja pernah merasa ingin bunuh diri. Ide bunuh diri mencapai 5,9 persen pada remaja perempuan dan 3,4 persen pada remaja laki-laki. Sebanyak 20,7 persen remaja juga pernah mengalami bullying.

Remaja yang mendapatkan bullying lebih mungkin mengalami kecemasan, depresi, dan mempertimbangkan melukai diri sendiri dan bunuh diri di kemudian hari. Untuk mencegah gangguan kesehatan pada remaja ini, orang tua dan guru memegang peranan penting untuk mendidik anak agar bergaul tanpa bullying. Remaja yang mengalami bullying juga harus mendapatkan perhatian agar trauma dan kecemasan bisa disembuhkan.

Ira Kusumawati
Follow me
Latest posts by Ira Kusumawati (see all)