Merajut Generasi Keemasan Indonesia di Era Ide


20210115_212834_0000.png

Read 206 

Dewasa ini jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta orang. Dan, ketrampilan generasi milenial bisa terekam pada semua perguruan tinggi atau universitas di Indonesia. Generasi milenial akan memainkan peran penting. Sedikitnya 49,5 persen pengguna internet berusia 19-34 tahun. Mereka berinteraksi atau melek teknologi berkat telepon pintar (smartphone).

Sedangkan berdasarkan polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumah pengguna internet di Indonesia tumbuh 10,12 persen dari tahun lalu. Hasil survei tersebut menyatakan bahwa 64,8 persen penduduk Indonesia sudah terhubung ke internet. Artinya dari 264 juta penduduk Indonesia 171,17 juta penduduknya sudah positif sebagai penggun dunia maya.

Internet bagi sebagian besar telah menjadi santapan kedua yang sangat diperlukann layaknya makanan pokok macam nasi di Indonesia. Setiap hari, jam menit pun detik internet selalu terhubung dan tersambung bagi mereka yang memang meiliki gawai macam smartphone, computer, ipad dsb.

Fenomena ini seiring berkembangnya teknologi jaringan dari mulai Edge, 2G, 3G, 4G bahkan 5G jaringan yang sedang digarap oleh PT Telkom untuk akses internet yang lebih maju, telah memberikan dampak yang sangat tinggi. Baik di sektor pertanian, industri pangan, otomitif, pendidikan, kesehatan ekonomi dan seterusnya. Dengan adanya teknologi yang semakin mudah diakses tentunya dan seyogiyanya manusia Indonesia khususnya, harus selangkah lebih maju dan menjadi sentral peradaban dunia khususnya di kawasa Asia Tenggara. Namun, apa daya ternyata hal ini masih cukup jauh dari ekspektasi dengan tertinggal oleh Malaysia dan Singapura.

Bila melihat data yang diungkapkan oleh mentri Industri Airlangga Hartarto tadi, memang Indonesia ini sebagai negara dengan penduduk mencapai 264 juta jiwa setidaknya telah memainkan internet lebih dari 64,8% penduduknya. Namun perlu dikaji ulang apakah internet yang ia mainkan adalah yang berbau dengan pendidikan, ekonomi, politik, keagamaan dan seterusnya, atau jangan-jangan pengguna internet ini hanya wara-wiri saja di dunia maya. Menebar hoax, hate speace, sibuk ngurisin orang ini-lah, orang itulah pun deminkian seterusnya. Sungguh ironis sekali memang, pengguna internet yang begitu banyak tidak sedikit dari mereka yang menggunakannya untu hal-hal yang sepele.

Apakah pernyataan ini dapat dibuktikan?
Untuk membuktikannya bisa kita lihat dan analisis terlebih dahulu dari sektor pendidikan, ekonomi dan sosial masyarakat. Contoh kecil misalnya; dunia pendidikan sebagai salah satu pemegang kunci kemajuan dan peradaban bangsa di Indonesia sendiri sangat memperihatinkan. Mulai dari banyaknya pelajar yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, hal ini disebabkan oleh kurangnya faktor biaya, padahal ia bisa dibilang sangat berkeinginan dan tak jarang pula dari mereka ini berprestasi baik itu di sekolah maupun luar sekolahnya cukup dipertimbangkan.

Sebenarnya dengan adanya internet mereka para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan dan tidak atau kurangnya biaya bisa tertangani dengan adanya beberapa beasiswa yang ditawarkan, baik oleh pemerintah daerah, provinsi dan pusat juga beasiswa dari beberapa kalangan swasta bisa ia dapatkan.

Namun, kendala selalu ada terkhusus proses sosialisasi terhadap masyarakat yang kurang atau gaptek (gagap teknlogi), sosialisasi terhadap pihak sekolah yang tidak menyeluruh juga ada dugaan beberapa sekolah yang tidak mempublikasian adanya program beasiswa tersebut. Dengan alasan yang sederhana yakni, mereka tidak mau dibebankan mengurus berkas para siswanya, tidak dapat komisi inilah, tidak ada uang transportnya-lah dan tak ada kemauan menjadikan muridnya lebih baik. Jauh sekali mereka ingin menjadikan para siswanya bermartabat, mulia apalagi sukses dunia dan akhirat.

Di sektor sosial internet kembali mengguncang bumi pertiwi, hadirnya beberapa flatfrom dunia maya macam Youtube, Instagram, Twiter juga Facebook telah banyak mengubah paradigma masyarakat Indonesia tekhusus bagi generasi milenial atau generasi Y, yang lahir antara tahun 1980-1997 an. Tidak jarang dari mereka yang bergaya kebarat-barat-an, ke-arab-arab-an dan yang sejenisnya. Budaya sopan santun sedikit demi sedikit mulai mereka tinggalkan.

Kata permisi yang merupakan budaya saling sapa khas Nusantara perlahan mulai ditinggalkan, manusia ini (milenial) ketika bertemu orang lain, tetangga ataupun kerabat sudah hampir tidak terdengar lagi kata permisi, yang ada adalah main serobot, langkah begitu saja layaknya ayam yang sedang mencari makan. Sunggug ironis.

Adam Alter dalam bukunya berjudul “Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Hooked”. Pernah mengatakan manusia ini dengan sebutan “tech zombie epidemic” yang disebabkan oleh kecanduan teknologi yang tak berkesudahan. Menurutnya, ada sensasi semacam “berapa banyak ‘likes’ yang saya dapatkan” ketika membuka Facebook atau Instagram. Mereka lebih mementingkan like’s ketimbang manusia yang hadir di depannya. Pun demikian dengan teman yang sedang berbicara di depannya. Sungguh Wow!

Abad 21 memang membuka banyaknya inovasi teknologi yang tak bisa dibendung lagi. Informasi yang berat dan sulit di jangkau oleh orang desa-pun kini sudah mudah untuk dinikmati. Sebagai ilustrasi. Bila di kota A terjadi kebakaran kemudian selang beberapa menit kota Z yang jaraknya katakanlah 30.000 KM jauhnya denga bantuan teknologi sudah bisa menyimak. Hal ini terjadi kerena teknologi informasi tidak hanya ada di media cetak macam bebeapa dasawarsa dulu, kini teknologi hanya dengan beberapa kali klik bahkan satu kali klik maka dunia yang Anda tempati sudah berbeda. Artinya peyempitan dan pelebaran waktu pada abad ini memang bukan isapan jempol belaka, tapi sudah dan memang nyata adanya.

Pelosok desa kini sudah diterangi lampion-lampion internet, apa yang mereka inginkan-pun akan sama seperti mereka yang berasal dari kota. Life style dan gaya-gayaannya juga akan disesuaikan dengan perkembangan jaman, yang pada dasarnya mereka dibelenggu oleh iklan-iklan merek-merek tertentu di dunia digital.

Dalam pada itu internet juga sangat mengahawatirkan untuk beberapa desa yang memang dari segi ekonomi, pendidikan dan infrastruktur sangat minim. Tingginya tuntutan teknologi tidak sebanding dengan tingginya kesadaran masyarakat pedesaan akan pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi modal utama dalam menghadapi dunia yang semakin hingar-bingar, dengan pendidikan kita lebih bisa mengntrol mana tontonan yang menjadi tuntunan dan mana juga tontonan yang tak mesti di tuntun.

Peristiwa urban para pemuda di pedesaan tidak sedikit diilhami oleh adanya keinginan perubahan seperti warga kota. Mulai dari busana, gawai juga pola makan dan tek-tek bengeknya mereka ingin mengikuti. Namun, dengan keterbatasan ekonomi tak ayal merekapun harus hijrah ke kota-kota besar, mengais beberapa dolar dari berbagai profesi yang ia jalani. Semua peristiwa tadi terjadi akibat adanya asusmsi instan yang ingin segera merealisasikan keinginannya yang mereka lihat dari berbagai suguhan dunia maya.

Pendidikan memang tidak membuat semua manusia di dunia ini menjadi sukses. Namun, setidaknya paradigma masyarakat terbangun sedikit demi sedikit, mulai bangkit dari kondisi keluh kesah kepada kondisi yang penuh anugerah. Setidaknya katakanlah jika kita mempunyai pendidikan paling minim setara menengah atas atau SMA, dengan ijazah yang kita punya kita bisa melamar paling tidak beberapa perusahaan atau membuka peluang bisnis baru sesuai dengan jurusan kita, itu itungan matematis para ekonom desa. Namun dalam hal ini banyak pemikiran instan di pedesaan yang ingin sejahtera tanpa memperhatikan aspek pendidikan. Akibatnya; bila ia menjadi penguasa atau pejabat tidak sedikit dari mereka yang akan menjilat, hokum runcing ke bawah dan tumpul ke atas, demikianlah peraturan yang akan ia bangun dan buat.

Dengan demikian pendidikan jangan sampai dikorbankan lagi oleh masyarakat pedesaan demi tercapainya keinginan dengan jalan pintas. Sinergitas pemimpin desa, kecamatan, derah, provinsi sampai pusat, haruslah kembali meninjau pendidikan di kawasannya masing-masing. Alokasi dana pendidikan yang begitu besar haruslah dikelola dengan baik, transparan dan bijak. Jangan sampai adanya kasus beberapa sekolah dan instansi tertentu memanfaatkan dana pendidikan demi kantong kelompok, pribadi juga istri-istrinya.

Kemudian peran mahasiswa dalam hal ini apa? Disini para mahasiswa bukan dituntut lagi bahkan diwajibkan bagi mereka untuk memberikan jembatan bagi para pelajar yang tergambar di atas. Tak hanya membantu para pelajar tadi, tapi mahasiswa harus berperan juga dalam mengawal berbagai kebijakan yang merugikan masyarakatnya, terkhsusu di sektor pendidikan di suatu daerah.

Generasi kali ini dikatakan dari berbagai sumber penelitian, telah mewakili 2 orang pendidikan yang lainnya. Namun, apakah tidak lebih baik bila pedidikan yang didelegasikan oleh mereka ini (mahasiswa ini) juga diberikan langsung kepada yang dua tadi. Maksudnya adalah alangkah baiknya jika semua orang di Indonesia ini memiliki pendidikan yang semestinya ia dapatkan. Semoga dengan lidah-lidah Anda para mahasiswa pedesaan menjadi asri dari berbagai polusi KKN. Terkhusus di sektor pendidikan dan birokrasi.

Semoga!

Latest posts by Hasbuloh Yusuf (see all)

Hasbuloh Yusuf

Lahir di Bogor, 17 September 1998