0 4 min 4 mths

inbound6780858243194017410.png

Read 142 

Mencintai dan dicintai merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia, baik itu mencintai diri sendiri maupun mencintai orang lain. Akan tetapi, ternyata lebih mudah mencintai orang lain daripada mencintai diri sendiri. Ada beberapa hal yang membuat manusia tidak menyukai diri mereka sendiri, padahal hal ini sangat penting guna menjalin silaturahmi dengan orang lain karena apapun yang dilakukakan haruslah sejalan dengan apa yang ada dalam diri sendiri. Mencintai diri sendiri dalam artian bukan menjadi seseorang yang bersifat narsisistik, namun diartikan dapat menerima segala kelebihan tanpa merasa tinggi hati serta sombong,tetapi juga bisa menerima segala kekurangan yang dimiliki karena sejatinya manusia itu tidak ada yang sempurna. Jika manusia tidak mencintai diri sendiri maka akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti melukai diri sendiri bahkan sampai berusaha untuk mengakhiri hidup.

Masa remaja adalah periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional. Menjalin hubungan dengan lawan jenis atau pacaran merupakan phenomena yang “wajar” dan sudah dianggap hal biasa dilakukan oleh kalangan remaja. Gaya pacaran remaja saat ini tidak hanya sebagai bentuk perkenalan, tetapi remaja saat ini sudah merasa memiliki pasangan seutuhnya, yang akhirnya akan berakibat tidak baik saat remaja tersebut putus cinta.
Pada masa remaja merupakan masa peralihan dari usia anak-anak ke usia dewasa. Kebanyakan remaja pasti pernah mengenal dan mengalami yang namanya jatuh cinta, pacaran dan putus cinta. Hal ini wajar dirasakan oleh remaja, karena sesuai dengan ciri-ciri dan tugas-tugas perkembangannya bahwa pada masa ini remaja akan merasa tertarik terhadap lawan jenis. Sehingga tidak heran apabila remaja yang putus cinta akan merasakan kesedihan serta kekecewaan yang mendalam dan berujung pada tindakan-tindakan negatif seperti bolos kuliah, mengurung diri di kamar, stress, kehilangan semangat kuliah, dan bahkan adapula yang melakukan bunuh diri. Banyak cara untuk seseorang menyalurkan emosinya, bisa dilakukan dengan cara positif bisa juga dengaan cara negatif.

Remaja yang tidak memiliki kematangan emosi akan cenderung gegabah dalam mengambil suatu keputusan, mudah berubah suasana hatinya dan kurang mampu menempatkan emosinya secara tepat, sehingga akan lebih mudah bagi remaja untuk menyalurkan emosinya pada tindakan-tidakan yang irrasional, sejalan dengan pendapat dari Gratz bahwasannya emosi remaja yang tidak terkendali akibat kurangnya kematangan emosi akan memungkinkan remaja untuk melakukan prilaku negatif atau tidak masuk akal untuk memuaskan batinnya serta emosinya, seperti merokok, narkoba, minum- minuman keras dan melukai diri sendiri (self injury). Salah satu faktor individu melakukan self injury karena ketidak mampuan individu untuk mengelola atau mengendalikan emosinya karena individu tersebut merasakan adanya kekuatan emosi yang tidak nyaman dan tidak mampu untuk mengatasinya, hal tersebut terjadi karena kurangnya kematangan emosi.

Oleh sebab itu, jika remaja memiliki kematangan emosi maka akan mampu untuk mengontrol emosinya, mampu untuk menunggu saat yang tepat ketika ingin mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang dapat diterima bukan dengan melakukan self harm atau self injury. Remaja yang memiliki kematangan emosi juga akan memiliki pemahaman diri, sehingga remaja mampu untuk memahami apa yang sedang dirasakan, mengetahui dari mana emosi yang sedang dihadapi, sehingga individu tersebut akan memiliki reaksi emosional yang stabil, tidak akan sampai mengambil keputusan untuk melakukan self harm atau self injury dan remaja yang memiliki kematangan emosi juga akan mampu untuk berfikir kritis atau obyektif, sehingga remaja akan mampu menilai situasi terselebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, sehingga remaja tidak akan memutuskan melakukan self injury sebagai cara untuk penyelesaian masalahnya karena itu adalah penyelesaian masalah yang irrasional.

Fera Nurul Wirdah
Latest posts by Fera Nurul Wirdah (see all)