MENJADI REMAJA HARUS BERBUAT DOSA


REMAJA-DOSA.jpg

Read 108 

Hi teens! Saat ini berapa usiamu? Apa kesibukanmu? Dan Apa cita-citamu? Pertanyaan ini tak perlu dijawab di kolom komentar ya teens. So, mari kita bernostalgia terlebih dahulu untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas. Kemarin kita duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama), tahun ini kita sudah duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas). Atau yang kemarin duduk di bangku SMA eh sekarang kita sudah dibangku perguruan tinggi. Lalu jawaban dari pertanyaan pertama tentang usiamu berapa hayo? Ya, silahkan hitung saja masing-masing.

Jika kamu berusia lebih dari 11 tahun dan kurang dari 21 tahun, kamu harus membaca tulisan ini secara seksama dan penuh konsentrasi. Sebab rentang usia 11 sampai 21 tahun merupakan periode perubahan secara biologis dan psikologis. Yang hal ini adalah masa tersulit daripada masa-masa lainnya yang akan dihadapi oleh setiap orang yang hidup.

Kondisi ini dipengaruhi oleh keadaan individu yang mengalami banyak perubahan dengan dirinya, sehingga selain ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang dialaminya, ia juga harus beradaptasi dengan tuntutan dari lingkungannya (Yuke H dan Ediana Kusuma dalam buku Kesehatan Reproduksi). Tetapi santai saja, yang harus kita lakukan hanya berbuat DOSA saja teens.

Selanjutnya kita kita bahas aktivitas atau kesibukanmu ya teens. Dalam setahun terdapat 12 bulan, 52,143 pekan, 365 hari, 8.760 jam, 525.600 menit, dan 31.536.000 detik. Tentunya kesibukan ini kalau dirinci akan bervariasi, ada yang sibuk dirumah saja, ada yang sibuk diluar rumah saja, atau sibuk keduanya dan hal lainnya. Namun tentunya setiap kesibukan yang dilakukan itu berkat dorongan keinginan atau desakan dari luar diri. Oleh karenanya waktu yang tersedia dalam satu tahun itu kalau hanya dihabiskan untuk hal-hal negatif, bisa saja hidupmu akan berakhir pada ketidakpuasan dan penyesalan.

Begitupun sebaliknya jika waktu dipergunakan untuk hal-hal positif, barangkali kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan sesuai yang diharapkan. Ingat pepatah “Time is free, but it’s priceless. You can’t own it, but you can use it. You can’t keep it, but you can spend it. Once you’ve lost it, you can never get it back” terjemahannya bisa translate di google aja ya teens. Intinya kamu harus berbuat DOSA lho teens!

Oke, kita coba bahas pertanyaan tentang cita-citamu. Setiap orang pasti memiliki harapan dalam hidupnya, namun tak semua harapan dapat disama artikan dengan cita-cita. Kalau saat ini kamu merasa bingung ketika ada yang bertanya tentang cita-cita atau kamu merasa kehilangan cita-cita dalam hidupmu, coba saja tanyakan pada anak kecil cita-cita mereka apa. Barangkali anak kecil itu akan menjawab dengan lantang atau penuh semangat, sebagaimana kita saat kecil dulu. Ingat saja, bahwa setiap orang berhak memiliki cita-cita dan berhak pula mewujudkannya. Tinggal kuncinya hanya satu yaitu berbuat DOSA!

Tiga pertanyaan yang telah diuraikan jawabannya hanya bermuara pada pernyataan “Berbuat DOSA”. Lalu apa yang dimaksud DOSA itu teens? Apakah kata itu mengacu pada istilah dalam agama atau mengacu pada norma-norma atau pada konstitusi negara? Langsung saja kita kupas bersama, bahwa DOSA yang dimaksud diatas ialah akronim dari “Daring Open Self-Assured dan Active”.

Kalau kita mampu mengaplikasikan DOSA dalam kehidupan sehari-hari, segala bentuk kesulitan yang dihadapi tentunya dapat teratasi. Berikut penjelasannya:

• Daring (Berani)
Sikap berani merupakan cerminan seorang yang punya kuasa atas keberadaan dirinya. Ketika kita mendapat masalah atau kesulitan tentunya modal berani adalah satu hal yang penting, sebab tanpa keberanian kita akan kalah oleh masalah yang kita hadapi itu. Selain itu, kita pun harus berani dalam memegang nilai dan menentukan sikap. Misalnya dalam hal pergaulan dengan teman sebaya, ketika diajak kepada hal-hal negatif kita harus berani menolak ajakannya. Namun, bukan berarti menolak keberadaan teman kita ya teens. Hal ini bisa berupa ungkapan yang tidak menyinggung perasaan teman kita contohnya: “Maaf, saya enggak mau minum minuman beralkohol bukan karena saya menolak kalian. Saya hanya merasa minum minuman beralkohol itu gak baik buat saya”.

• Open (Terbuka)
Terbuka merupakan perwujudan dari sikap jujur, rendah hati, adil, serta mau menerima pendapat/masukan dari orang lain (dalam akidahakhlakeducation.blogspot.com). Dengan bersikap terbuka kita dapat meminimalisir dan memperbaiki kesalahan. Ciri orang yang bersikap terbuka ialah: tidak malu mengubah keyakinan atau pendapat jika terbukti salah, selalu mencari informasi dari berbagai sumber sehingga terhindar dari kekeliruan, lebih mementingkan pendapat (materi) daripada yang menyampaikannya, dan mudah menerima sesuatu yang cukup bukti dan objektif. Dengan sikap terbuka ini pun penyelesaian masalah akan lebih efektif, karena jika sebaliknya kita tertutup maka kemungkinan untuk mendapat solusi sangatlah kecil (dalam hal ini: komunikasi).

• Self-Confidence (Percaya Diri)
Dalam kehidupan sehari-hari, pergaulan merupakan syarat seseorang bisa diterima oleh orang lain. Menurut Lauster (2002:4) kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Oleh karenanya, kita harus mampu bersikap percaya diri sehingga kita tidak semata-mata hidup diliputi kekhawatiran dan kerendah dirian. Karena jika kita tidak mendapat kepercayaan dari diri kita sendiri, maka menjadi hal yang sulit untuk berharap orang lain dapat memberi kepercayaan kepada kita.

• Active (Aktif)
Aktif yang dimaksud disini ialah ikut terlibat dalam berbagai aktivitas yang positif. Hal ini kita dapat mengaplikasikannya dengan cara mencoba berbagai kegiatan dalam upaya menggali minat dan potensi diri, misal mengikuti organisasi remaja, paskibra, pramuka, bela diri, dan aktivitas lainnya. Atau bisa juga melalui hobi yang sudah kita jalani. Intinya kita selalu berinteraksi dengan yang lain sebagaimana Schneider menyebutnya kebutuhan identitas diri kita terpenuhi.

Pada hakikatnya keempat istilah diatas saling berkaitan dan saling menunjang satu sama lain. Oleh karenanya tidak mungkin kita berbuat DOSA tanpa S. Sebab kalau iya, kita hanya berbuat DOA. Sementara kita semua tahu bahwa doa tanpa usaha takkan berbuah hasil apa-apa. Ingat ya teens menjadi Remaja Harus Berbuat DOSA!

Bagus Hilman Nurulum
Follow me
Latest posts by Bagus Hilman Nurulum (see all)
Bagus Hilman Nurulum

Bagus Hilman Nurulum

Bagus Hilman Nurulum lahir di Garut pada tanggal 6 November 1998. Akrab dipanggi 'Gus' yang mudah-mudahan menjadi Gus sebenarnya. Pernah belajar di bangku Raudhatul Atfal (setingkat Taman Kanak-kanak) Al-Istiqomah Cigawir, kemudian mealnjutkan ke bangku Sekolah Dasar Negeri 1 Cigawir. Setamatnya dari Sekolah Dasar ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Plus Al-Ittihad Cigawir yang terletak di tanah kampung kelahirannya. Setelah merasa bosan mengenyam bangku pendidikan di desa setempat, ia mencoba mencari pengalaman pendidikan keluar desa. Tepatnya Madrasah Aliyah Plus Al-Islam Pasirjeungjing. Tempat tersebut telah membuatnya seakan hidup di dunia sebenarnya, begitupun sekolah itu menjadi washilah dilanjutkannya ia ke Perguruan Tinggi Negeri di Bandung.