Meminimalisir Kenakalan Remaja dengan BKI Melalui Teori Behaviourisme


IMG-20191229-WA0008.jpg

Read 74 

Remaja merupakan penerus bangsa yang diharapkan dapat menggantikan generasi-generasi terdahulu dengan kualitas kinerja dan mental yang lebih baik dan remaja juga merupakan masa dimana seorang manusia dalam masa yang labil, penuh rasa ingin tahu, dan dalam pencarian jati diri.

Masyarakat Indonesia berharap generasi-generasi yang akan datang dapat menjadi agent of change tetapi sebaliknya pada kenyaataannya remaja saat ini tidak seperti apa yang diharapakan. Remaja-remaja ini sering terjerumus dalam lingkaran kenalan-kenalan yang tidak dibayangkan atau sering di kenal dengan sebutan kenakalan remaja.

Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam ruang lingkup kecil atau besar yang dilakukan pada masa remaja atau transisi masa anak-anak ke dewasa. Dalam suatu peristiwa pasti ada sebab dan akibatnya , sama halnya dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja saat ini sudat dapat membawa pada hal-hal yang sudah melampaui batas. Bukan saja mengarah mengarah ke kriminalitas biasa, tapi juga kejahatan seksual. Tentu saja hal ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Kenakalan remaja di pengaruhi oleh faktor eksternal dan internal, salah satunya lingkungan adalah faktor eksternal yang membawa dampak yang sangat besar dalam hali ini.

Beberapa faktor yang menyebabkan kenakalan remaja:
1. Terbiasa di manja
Perilaku orang tua yang tidak tepat terhadap anak bisa menjadi pemicu kenakaln pada anak remaja. Hal ini terkadang tak disadari kebanyakan orang tua, salah satunya yaitu anak terbiasa di manjakan sejak kecil dengan di penuhi segala keinginannya dan kebiasaan ini terbawa hingga masa remaja. Dan kebayakan ketika tidak terpenuhi remaja ini tidak akan sanggup dengan kenyataannya dan bertindak semaunya, termasuk melakukan berbagai kenakalan.

2. Keluarga tidak harmonis
Menurut beberapa psikolog, ketidakharmonisan dalam keluarga menjadi faktor utama penyebab kenakalan pada anak. Orang tua yang sering bertengkar, adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) akan memicu agresivitas remaja. Dia akan mencari perhatian dengan melakukan berbagai tindakan kenakalan.

3. Kurangnya kasih sayang
Penyebab kenakalan remaja lainnya yang sering terjadi adalah kurangnya kasih sayang dari kedua orang tua. Karena perhatian dan kasih sayang yang kurang , membuat anak akhirnya mencari pelampiasan salah satunya dengan melakukan kenakalan-kenakalan dengan tujuan untuk mencari perhatian dari kedua orang tuanya.

4. Pendidikan yang terlalu keras
Sebagian orang tua memberikan pendidikan yang keras pada anak dengan harapan, anak mereka tumbuh seperti apa yang di harapkan. Padahal pendidikan yang terlalu keras berbanding terbalik lebih membuat anak merasa tertekan sehingga anak memberontak dan melakukan kenalan-kenakalan.

5. Komunikasi yang buruk
Komunikasi adalah hal yang terpenting terutama dalam sebuah keluarga. Ketika komunikasi antara orang tua dengan anak terhambat, bisa menjadi menjadi penyebab kenakalan yang terjadi pda remaja. Kondisi inilah yang menyebabkan ketidak terbukaan remaja pada orang tua mengenai masalah-masalah yang sering terjadi. Komunikasi yang terganggu antara anak remaja dan orang tua menyebabkan remaja mencari jati diri di luar, dengan melakukan sejumlah kenakalan di luar.

6. Lingkungan pergaulan
Tidak hanya keluarga, lingkungan pun menjadi faktor eksternal yang bisa menjadi penyebab mengapa remaja dapat berprilaku yang tidak wajar. Teman- teman yang ada di dalam lingkup permainannya pun bisa menjadi pemicu kenakalan pada anak remaja. Dengan tipu daya muslihat setia kawan, remaja yang msih labil mudah sekali terpengaruh pada hal-hal negatif yang dilakukan temannya.

7. Faktor religi
Setiap orang tua wajib membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama. Hal ini karena pendidikan gama merupakan pendidikan dasar yang banyak mengajarkan etika serta moral –moral kehidupan. Sehingga ketika anak-anak tak dibekali pendidikan agama sedari kecil, amak tentu saja akan berakibat buruk pada perilakunya

8. Lingkungan tempat tinggal
Kondisi dari lingkungan selitar tempat tinggal juga bisa menjadi penyebab kenakalan pada anak-anak remaja. Misalanya sja, ketika ruang lingkup tempat tinggal di wilayah yang agamisnya tinggi, maka tentu saja remaja itu akan mengikuti kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan di tempat tinggalnya. Begitupula sebaliknya.

9. Faktor ekonomi
Kebanyakan kondisi ekonomi yang kekurangan dapat membyat anak remaja bertidndak nakal dan melakukan suatu kriminal contohnya mencuri, melakukan demikian karena kebutuhan dasar atau pokoknya tidak terpenuhi dan mereka tidak mampu untuk membeli dengan terpaksa mereka melakuka hal-hal yang melanggar norma.

10. Faktor teknologi informasi
Tidak dapat dipungkiri dengan berkembanganya zaman, teknologi mempunyai sisi baik dan buruk. Sisi baiknya teknologi memberikan manfaat yang luar biasa seperti memudahkan mencari informasi-informasi dan masih banyak lagi. Di sisi lain teknologi juga menghasilkan dampak buruk. Di sisi lain, jika tak disikapi dengan bijak justru akan menghancurkan kehidupan.

Pesatnya informasi yang dengan mudah diakses oleh anak remaja dapat mempengaruhi perilaku keseharian. Bahkan anak remaja akan dengan mudah terpengaruh perilaku pornografi. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Dengan sekali sentuh, anak remaja dapat menyaksikan adegan pornografi yang seharusnya hanya konsumsi orang dewasa. Tentu saja hal ini berpengaruh buruk pada perilakunya. Kondisi ini memicu hasrat remaja yang tak terkontrol sehingga menyebabkan seks di luar nikah (seks bebas), bahkan perkosaan.

Adanya perihal seperti ini secara khusus menjadi tamparan keras terutama kepada orang tua agar dapat membimbing anak-anaknya dalam masa remaja dengan baik. Karena masa remaja adalah masa-masa yang sedang mencari jati diri.

Bimbingan Islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Dengan demikian bimbingan Islami merupakan proses bimbingan sebagaimana kegiatan bimbingan lainnya, tetapi dalam seluruh seginya berlandaskan ajaran Islam, artinya berlandaskan al-Qur’an dan sunnah Rasul.

Bimbingan Islami merupakan proses pemberian bantuan, artinya bimbingan tidak menentukan atau mengharuskan, melainkan sekedar membantu individu. Individu dibimbing, dibantu, agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah. Maksudnya sebagai berikut :

1. Hidup selaras dengan ketentuan Allah artinya sesuai dengan kodrat yang ditentukan Allah ,sesuai dengan sunatulloh, sesuai dengan hakikatnya sebagai mahluk Allah.
2. Hidup selaras dengan petunjuk Allah artinya sesuai dengan pedoman yang telah ditentukan Allah melalui rasulnya (ajaran islam )
3. Hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah berarti menyadari eksistensi diri sebagai mahluk Allah yang diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya ,mengabdi dalam arti seluas-luasnya

Konflik-konflik batin dalam diri manusia yang berkenaan dengan ajaran agama (Islam maupun lainnya) banyak ragamnya, oleh karenanya diperlukan selalu adanya bimbingan dan konseling Islami yang memberikan bimbingan keagamaan kepada individu agar mampu mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Sebagaimana dalam QS. Al-Ankabut, 29 : 2, dan QS. Luqman, 31 : 7.

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan (Arya, 2010). Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik yang menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Dalam teori ini akan mendapatkan penghargaan atau reward, bila seseorang melakukan sesuatu prestastasi, dan seseorang akan mendapatkan hukuman apabila ia melakukan pelanggaran. Sistem ini dilakukan guna sebagai timbal balik bahwa ayat allah menjelaskan dalam surah Al-Zalzalah ayat 7-8.

Dan sistem ini sering sekali di aplikasikan di lembaga pesantren ini contohnya seseorang itu selalu menggunakan bahasa yang di resmikan oleh pesantren yaitu bahasa arab dan inggris. Ia tidak pernah berbicara menggunakan bahasa selain bahasa resmi, maka dia akan mendapatkan pengghargaan menjadi santri terbaik dalam berbahasa. Dan ini menjadi motivasi untuk dirinya dan yang lainnya agar mereka juga bisa saperti dia. Dan tentunya harus bekerja keras dengan proses yang kuat.

Dan sebaliknya, suatu pesantren sudah memiliki aturan masing- masing salah satunya tidak boleh keluar tanpa izin. Salah satu santri ada yang kabur atau keluar lingkungan pondok tanpa izin, dan ia pun akan mendapatkan sanksi seperti apa yang dia lakukan. Biasanya sanksinya masih mengandung unsur pendidikan yaitu menulis surat yasin sebanyak 5 kali dan di kumpulkan dalam waktu yang di tentukan. Terkandung pelajaran dalam sanksi nya itu dengan membiasakn santri menulis ayat suci al-quaran dan memperindah tulisannya.

Hana Nurdiana
Follow me
Hana Nurdiana

Hana Nurdiana

Nama saya Hana Nurdiana, saya mahasiswa jurusan BKI di UIN Sunan Gunung Djati