Insecure bisa Menyebabkan Mental Illness pada Remaja


mental-illness.jpg

Read 347 

Remaja adalah suatu fase suatu peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, sehingga pada masa itu seseorang disebut sedang mencari jati diri, mempunyai potensi yang tinggi, dan semangat yang menggebu – gebu. Namun apakah ada hambatannya dalam masa ini? Ya tentu saja, banyak hambatan yang terjadi pada masa remaja itu salah satunya adalah rasa insecure.

Insecurity atau perasaan merasa tidak aman pada setiap orang. Ketidakamanan itu bisa berupa malu, tidak percaya diri dan khawatir. Saat orang merasakan ketidaknyamanan ia akan merasakan ketakutan ketika melakukan kegiatan apapun, seperti takut bertemu orang banyak, takut berbicara dengan orang lain, dll.

Salah satu alasan yang menyebabkan insecure adalah merasa tidak percaya diri merasa dirinya lebih rendah dari orang lain. Ketika seseorang tidak percaya diri, ia malu terhadap bentuk fisiknya dan kemampuan dirinya. Maka hal itu dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman terhadap posisinya dan akan terus membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Situasi tersebut dapat menyebabkan depresi yang berlebihan dan memicu gangguan jiwa (mental illness).

Remaja tersebut akan merasa khawatir, tekanan yang tinggi karena terlalu berharap yang sangat tinggi. Rasa kekhawatiran yang terlalu tinggi dapat menyebabkan rasa insecure terlalu tinggi dalam diri remaja, yang secara tidak langsung dapat mengakibatkan gangguan mental yang bias menjadi fatal.

Berbicara tentang mental illness (gangguan jiwa) di Indonesia, kesadaran masyarakat Indonesia akan mental illness masih rendah, belum sepenuhnya menyadari bahwa mental illness berpengaruh besar terhadap keadaan fisik dan faktor kejiwaan si korban.

Faktor – faktor yang menyebabkan insecurity terjadi:
1. Trauma
Trauma pada seseorang dapat menyebabkan seseorang tersebut menjadi tidak percaya diri, sehingga ketika melakukan sesuatu ia akan terbayang-bayangi dengan traumanya di masa lalu.

2. Ekspetasi yang terlalu tinggi
Banyak remaja pada masa milenial ini, ia mempunyai suatu idola yang ia senangi sehingga penampilan dan gaya hidupnya menjadi model untuk kehidupannya pula, dan ketika ekspetasinya tidak sesuai dengan realitanya ia akan merasa depresi dan menyalahkan dirinya sendiri.

3. Pergaulan
Pergaulan adalah faktor yang sangat mempengaruhi kepribadian suatu remaja. Pergaulan dapat membuat remaja itu menjadi remaja yang baik dan bisa juga sebaliknya, itu tergantung terhadap lingkungan pergaulannya.
Diatas merupakan sebagian faktor yang bisa menyebabkan mental illness pada seseorang, peran orang tua dan keluarga sangatlah penting. Mental illness dapat merenggut nyawa seseorang. Dukungan dari lingkungan dan teman dekatnya dapat berpengaruh juga terhadap pemulihan mental illnessnya seseorang. Oleh karena itu, mari kita semua lebih sadar tentang isu mental illness yang dapat berpengaruh fatal terhadap seseorang.

Anisa Rachma Pertiwi
Follow me
Latest posts by Anisa Rachma Pertiwi (see all)
Anisa Rachma Pertiwi

Anisa Rachma Pertiwi

Hi