FILOSOFI KERETA


Read 93 

Akhirnya tiba juga waktu itu bagiku. Yap! Waktu yang dinanti-nantikan anak rantau untuk kembali ke rumah, bertemu sanak keluarga atau rehat bahkan sekedar menghilangkan penat dari kota rantau. Siang itu, aku kembali ke Jakarta menggunakan kereta api. Yuhuuuuuuu! Aku menikmati setiap detik perjalanan menuju ke rumah. I love train. Not about the machine at all, but about what I got.

“Ka, kereta Argo Parahyangan 5 menit lagi berangkat”,

tegur petugas porter yang melihat aku berlari dari gerbang masuk motor menuju ke dalam stasiun dan terpaksa membuat kakiku melangkah besar-besar dan lebih cepat komplit dengan sedikit terengah-engah. Gimana enggak? AKU SUDAH TRAUMA KETINGGALAN KERETA. Huaaaaa! I don’t want make same mistakes anymore! Singkat cerita, dulu, tahun 2015 di perjalanan kunjunganku dari Kediri ke Semarang, tepat 1 menit sesudah kereta jalan aku baru saja sampai di stasiun Kediri dan aku benar-benar melihat keretaku jalan di depan mata kepalaku sendiri. Hanya karena ketinggalan satu menit, aku harus menunggu 6 jam untuk keberangkatan kereta berikutnya. Masih untung tiket keberangkatan berikutnya masih tersedia saat itu. Kebayang kan kalau sudah habis? Aku harus menunggu sampai besok, sementara aku tidak punya tempat tinggal di Kediri. Huft.

Tahu, kan? Kereta nggak bisa berhenti kalau sudah waktunya untuk berangkat. Enggak sama sekali! Bahkan, di jalan raya sekalipun kereta nggak bisa diberhentikan cuman karena ada banyak transportasi lain yang mau lewat. Yang ada, transportasi lain harus lebih bersabar menunggu kereta lewat atau bertaruh nyawa kalau mau melawan aturan lalu lintas transportasi darat. Udah mana gerbongnya banyak dan nyambung satu sama lain, jadi selamat berolahraga Cardina! Karena kursiku ada di gerbong paling ujung. And… Banyak orang yang nggak kita kenal sebelumnya dengan latar yang berbeda-beda, tapi punya satu tujuan stasiun sama-sama memenuhi stasiun untuk menunggu kereta sesuai tujuan masing-masing. Jadi harus berusaha keras selap-selip.

Have you ever know? Aku ngerasa kalau kereta itu bagai salah satu lini kehidupan saat manusia harus menjalaninya tanpa harus berfikir siapa atau apa yang ditinggalkan, melainkan cukup tahu bagaimana cara untuk sampai, kapan, berapa lama dan dimana stasiun akhir tempat kereta harus berhenti.

BINGO! Kamu nggak terlambat kali ini, Car.

Lega rasanya, pantat sudah nempel sama kursi. Tolah-toleh, tolah-toleh. Lihat lekat-lekat, lihat lagi ke jendela. Senyum-senyum sendiri kadang juga bisa nangis sendiri. Hmmm mau gimana lagi? Kalau lagi naik kereta sendiri kan nggak ada teman ngobrol ya. Eh, ada sih kalau lagi beruntung dapat teman sebangku yang seumuran. And I do this, “A, punteun boleh pinjam headsetnya?” hahahahaha. Habis ini pasti kalian bilang “dasar, nggak modal!”, heyyy! Jangan kaya nggak pernah jadi manusia pelupa deh hehehe.

That’s not the point, by the way. Hehe. So, buatku kereta itu alternatif yang tepat untuk belajar lebih banyak dari orang lain atau perjalanan itu sendiri. Cocok buat me time sembari intropeksi diri. Lebih-lebih nih ya, fasilitas di kereta api tuh bikin aku nggak khawatir sama sekali kalau-kalau hp-ku habis baterai atau kepanasan apalagi pegel, soalnya ada fasilitas stop kontak masing-masing kursi dua, terus kursinya bukan kursi plastik, tapi kursi yang layak untuk duduk bahkan di gerbong ekonomi sekalipun. Dan, AC juga oke punya. Perjalanan rasanya lebih nyaman untuk dinikmati sampai-sampai selalu ada buah yang bisa dipetik didalamnya. Mulai dari tujuan perjalanan kita sampai bagaimana proses kereta berjalan dengan segala filsofinya.

Sure, if you never going by train, try it! And catch your philosophy then tell me, OK? This is mine, but I wanna hear yours!

Cardina Adiputra
Follow Me
Latest posts by Cardina Adiputra (see all)
Cardina Adiputra

Cardina Adiputra

Travel the Journey