BODY POSITIVITY


20200102_101420_0000.png

Read 129 

Masa Remaja adalah masa yang sangat menentukan, masa pencarian jatidiri dan kebermaknaan hidup. Dalam prosesnya remaja ingin selalu menunjukkan dirinya, didepan khalayak. Remaja dalam perkembangannya biasanya memerlukan roles (model) yang dijakan sebagai inspirasi untuk dia contoh dalam hal apapun, termasuk mengenai Beauty Standart. Terlebih sekarang kebanyakan remaja sudah menggunakan media sosial, model yang dijadikan sebagai inspirasi biasanya didapatkan dari media sosial sehingga trend beauty standard mereka dapatkan berasal dari media sosial.

Masalah ini menjadi sangat penting dalam konteks sosial, kenapa? Karena berhubungan dengan mental healthy, point of view seseorang, yang harus diluruskan. Khusunya untuk para remaja perempuan.

Definisi tubuh ideal dari generasi ke generasi telah diciptakan oleh media massa. Tak peduli seperti apa pun bentuk asli rupa dan badannya, sebagian besar orang berupaya untuk menyamakan diri dengan gambaran yang ada di mayoritas publikasi. Misalnya yang selalu digaungkan di media sosial / iklan di tv adalah cantik itu langsing, berkulit mulus, putih, mancung, dan tinggi. Akhirnya hal ini membentuk nalar remaja untuk ikut terpengaruh mempresepsikan bahwa beauty standard saat ini adalah seperti itu. Dampaknya apa? Akhirnya banyak remaja yang berlomba-lomba untuk mempercantik atau mengubah penampilan hanya demi sebuah pengakuan sosial. Mereka rela melakukan apapun dengan cara apapun. terlepas dari hal itu baik atau tidak, sehat atau tidak. Contohnya; Diet yang salah, minum obat-obatan, menggunakan cream ini itu yang tidak sesuai dengan usia dan kebutuhan, sulam ini itu, bahkan sampai pada plastic surgery.

Mungkin hal tersebut akan terlihat biasa saja dan dapat diterima jika semua yang dilakukan itu berhasil dan mengubah tubuh sesuai dengan yang diinginkan, tetapi dalam setiap tindakan untuk “mengubah sesuatu” pasti terdapat hambatan atau pahitnya bisa terjadi kegagalan. Dan dampak dari gagal itu bisa saja tubuh menjadi lebih gemuk dari semula, wajah timbul bruntusan jerawat karena tidak cocok, menimbulkan penyakit akibat obat-obatan. Hal tersebut dapat dikatakan sia-sia jika itu terjadi karena yang tujuan awalnya adalah untuk memperindah diri malah berakhir dengan memperburuk diri. Lalu bagaimana dengan dampaknya terhadap lingkungan? Dampak dari kegagalan itu adalah ia tidak diterima oleh sosial karena melakukan hal yang tidak-tidak, tidak sesuai dengan beauty standard sosial tersebut.

Dari segi mentalitas, semua hal tersebut akan berdampak stress yang memicu gangguan jiwa, sesorang menjadi tidak percaya diri, menarik diri dari pergaulan, dll. seperti halnya di korea yang sudah familiar dengan plastic surgery, mereka mengatakan bahwa sah-sah aja jika seseorang ingin melakukannya asal tidak berlebihan, nah balik lagi definisi berlebihan dan tidak berlebihan itu relatif, masing- masing orang memiliki kadar penilaiannya yang berbeda-beda. Fatalnya, Ketika seseorang merasa tidak diharapkan dan dikucilkan dilingkungannya maka yang terlintas hanya satu : (bunuh diri).

Sudah banyak kasus di dunia perempuan bunuh diri karena mendapatkan bully yang disebabkan dia tidak memiliki paras yang sesuai dengan beauty standard mereka. Contoh real nya di korea dan jepang yang tingkat kematian (bunuh diri) nya tinggi akibat tidak diterima dilingkungan, fisiknya tidak sesuai dengan standard mereka. Itu sebenarnya yang darurat untuk kita, jangan sampai lingkungan kita menjadi kejam dengan berpikiran seperti itu.

Oleh karenanya, perlu adanya kesadaran akan body positivity dalam diri setiap orang, terkhusus remaja. Karena sebenarnya beauty standart menurut itu tidak ada. Beauty standard itu yang bagaimana? Siapa yang bisa mengukur itu? Tidak ada. Contohnya; alis tipis salah, alis tebal malah terlihat seperti sinchan. Jidat yang tipis salah, jidat yang lebar salah (seperti papan tulis). Hal itu terjadi karena beauty standard memang tidak ada, absolutely Nothing. Saya masih percaya bahwa cantik atau tampan itu relatif, tergantung pada selera masing-masing. Bisa saja menurut si A kulit putih itu menawan tapi menurut si B yang menawan itu kulit yang hitam eksotis, semuanya sah-sah saja tergantung pada selera. Dan kebanyakan orang sulit untuk menerima suatu hal yang berbeda dengan dirinya atau lingkungannya. Mudah sekali untuk judjing orang lain maupun diri sendiri, contohnya ketika sedang di kaca; “ih kok gua kegendutan, chubby, jidat gua lebar bgt, gila tangan gua udah kek beton, astagaaa item bgt gua,,dll” semua kata-kata racun itu jika terus menerus dikeluarkan sama saja dengan suggestion pada diri kita, akhirnya akan berpengaruh pada menurunnya kepercayaan diri, berkurangnya rasa syukur terhadap apa yang sudah Tuhan berikan, insecure. Hal itu tidak baik untuk mental healthy. Padahal kebenarannya segala sesuatu tidak hanya dapat dilihat dari fisik. Source of Confident itu bukan semata mata didapat dari look seseorang. Banyak hal positif lain yang bisa dilakukan untuk membuat citra diri lebih baik dan dihargai orang dengan melakukan hal-hal positif lainnya (mengembangkan bakat dan minat, belajar, mengejar mimpi, menyalurkan hobi, bekerja, dll).

Jika terus menerus stuck on your body tidak akan ada ujungnya. Zaman ini semakin maju, maka akan semakin cepat pula perubahan tipe/model tampilan cantik setiap orang jika bertumpu pada sosial. Tidakkah lelah harus setiap perubahan model kita ikut berubah? Lebih baik being your self, karena Naturalnya manusia itu tidak pernah puas, sudah seperti ini malah igin seperti itu, sudah diberikan yang di butuhkan malah ingin yang diinginkan. Jatuhnya kita tidak akan pernah bisa menghargai diri kita sendiri, karena hidup selalu bergantung pada penilaian publik.

Remaja harus mempunyai mental healthy yang positif mengenai tubuhnya. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk sama dengan kita atau menuntut untuk memiliki selera yang sama. Karena manusia memang dilahirkan berbeda-beda secara visual dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula. menjadi makhluk sosial yang baik adalah dengan menghargai segala perbedaan yang ada pada circle kita. Berteman tanpa memandang visual seseorang dan berani melakukan hal-hal baik bersama. Remaja yang baik adalah remaja yang merasa confident atas tubuhnya, Bagaimana ia bisa menerima kondisi tubuhnya secara apa adanya dan bukan dijadikan sebagai hambatan untuk melakukan apa yang dia ingin lakukan. Berhenti untuk scanning setiap orang disekeliling kita. Dan menjadi sehatlah, bukan memaksa untuk menjadi cantik. Karena sejatinya, kesehatanlah yang terpenting.

Multhifatul Mutmiroh
Follow me
Latest posts by Multhifatul Mutmiroh (see all)
Multhifatul Mutmiroh

Multhifatul Mutmiroh

I am an ENFJ-T