Berteman Dengan Rasa Cemas


20200102_100729_00001.png

Read 209 

Di era milenial ini masalah kecemasan bisa dialami oleh siapa saja termasuk remaja. Bahkan remaja masa kini cenderung lebih banyak mengalami gangguan kecemasan dari pada generasi sebelumnya. Perasaan cemas dapat muncul kapan saja, dalam bentuk paling ringan, perasaan cemas dapat memacu kita untuk berpikir dan merencanakan sesuatu di masa depan secara berlebih.

Jika dilakukan berlebihan, perasaan cemas dapat berubah menjadi hal yang mempengaruhi produktivitas, konsentrasi, dan mood. Bahkan, kecemasan yang berlangsung secara terus menerus dapat mengganggu hubungan sosial dan memperbesar masalah. Cemas menjadi reaksi normal terhadap situasi yang penuh tekanan. Biasanya rasa cemas dapat dipicu pertama kali ketika masa kanak-kanak. Selain itu, faktor biologis dan lingkungan berkontribusi terhadap gangguan kecemasan. Sebagian orang memiliki kecenderungan genetis hingga dapat muncul rasa cemas yang berlebihan. Walaupun begitu, pengalaman traumatis pada usia dini dapat mengubah proses tubuh yang normal menjadi reaktif atau berlebihan dalam menghadapi stres.

Salah satu trik untuk berteman dengan rasa cemas dengan berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri merupakan langkah untuk memahami, menerima, memaafkan dan mengapresiasi yang pada akhirnya akan mencintai diri. Ketika sudah mencintai diri sendiri kita akhirnya mengetahui peran apa yang kita mainkan di kehidupan ini. Jika sudah berdamai pun kita dapat bergerak dan berjalan apa adanya dengan sadar sehingga bisa membuat keputusan yang baik serta bermanfaat tidak hanya terhadap diri sendiri juga untuk orang lain. Melakukan itu semua memang tidak mudah karena kita pun terkadang membandingkan diri dengan orang lain yang hanya akan memperkuat perasaan cemas bahkan insecure. Dan mungkin pada akhirnya mulai tidak nyaman dengan pemikiran dan diri sendiri karena terus membandingkan apa yang sudah dimiliki diri sendiri dengan yang dimiliki orang lain. Padahal kita perlu menyadari bahwa setiap orang itu berbeda entah dalam kemampuan, kondisi, latar belakang, dan lain – lain. Walaupun kita bisa menjadi orang lain dengan banyak melakukan kritik berlebih pada diri sendiri itu akan berakibat pada hilangnya jati diri dan penghargaan pada diri.

Seperti contoh kasus terhadap sebuah perspektif dimana harus pintar dulu baru diperlakukan baik, harus cantik atau ganteng dulu agar dihormati, harus menjadi orang yang berkuasa dulu baru didengarkan, dan lain – lain. Secara tidak sadar itu menjadi pola pikir dan cara dalam mengambil keputusan pada perasaan tidak diterima kalau belum seperti standar yang ditentukan. Namun, jika sudah menyadari adanya pengalaman itu, kita dapat menerima, berdamai dan memaafkan atas perasaan-perasaan ditolak yang membuat lebih mudah untuk tidak menyakiti diri dengan mendorong diri sekuat tenaga menjadi orang lain. Dan yang perlu kita sadari juga bahwa mencintai diri bukan berarti ia seorang narsistik. Bukan berarti menjadi orang egois yang tidak mendengarkan masukan orang lain tapi mencintai diri sendiri bertujuan untuk memperhatikan diri sendiri agar bisa mengatur hidup bersama orang lain. Setiap individu perlu menemukan cara yang cocok untuk mencintai dirinya sendiri dan bisa membuat diri puas bahkan bahagia.

Annisa Fadilah
Follow me
Latest posts by Annisa Fadilah (see all)
Annisa Fadilah

Annisa Fadilah

Akrab disapa fadilah, anak kedua dari dua bersaudara yang lahir di Kota Bandung pada 06 Februari 2000. Tahun 2005 memasuki pendidikan SD di Muhammadiyah 7 dan lulus tahun 2011, tahun 2014 lulus dari SMP Negri 37 dan 2017 lulus dari SMA Kartika XIX-1. Sekarang menempuh jenjang S1 di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Bimbingan Konseling Islam.